humor menurut islam

Sobat. Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan. Tersenyum dan tertawalah! Saat anda tersenyum dan tertawa sel-sel tubuh anda akan jauh lebih sehat dibandingkan anda marah. ( Faqih Syarif, 2018 )
Sobat. Jika sedang tidak ada training , saya menghabiskan waktu saya bersama keluarga dengan bercabinya. Ada energi yang saya dapatkan ketika bisa berbahagia dengan orang-orang yang saya cintai. Ternyata hukum cinta selalu sama, yaitu membawa kekuatan positif.

Sobat. Dalam setiap sesi training saya selalu menyelipkan humor. Saya ingin proses belajar dinikmati dengan enjoy karena tertawa hanya butuh 12 otot dan 3 saraf, sementara marah dan kesal bisa membutuhkan 72 otot dan 360 saraf. Bisa kita bayangkan ternyata marah memerlukan banyak energi. Semakin sering orang marah, semakin habis energinya terkuras. Energi pikiran dan perasaan, maka selera humor menjadi penting.

Sobat. Setidaknya ada lima kekuatan dalam selera humor yaitu :
• Kekuatan semangat. Orang yang memiliki selera humor tinggi akan selalu terlihat semangat, berbeda dengan yang sebaliknya.
• Kekuatan menyenangkan orang lain. Bisa menyenangkan orang lain adalah hal yang selalu diinginkan orang banyak. Salah satu caranya adalah dengan humor.
• Kekuatan meditasi. Orang-orang yang telah menemukan pencerahan “kesadaran” adalah orang-orang yang sudah mencapai meditasi tertinggi dan terkadang kesadaran datang dari humor yang membungkus kritik dan nasihat . Disitulah kemudian seseorang kemudian merenung.
• Kekuatan melayani. Bagaimana anda bisa melayani orang lain, sementara anda sendiri belum bisa mengendalikan diri-sendiri. Bagaimana anda bisa membuat orang lain tertawa, jika anda sendiri tidak ceria. Pelayanan yang sejati adalah ketika anda mampu melayani diri anda sendiri.
• Kekuatan energi positif. Di antara yang membuat anda sukses adalah energi positif. Jika anda selalu tampil menyenangkan, maka anda akan selalu memiliki energi positif yang memudahkan anda menemui jalan kesuksesan.

Sobat. Daripada kita marah dan membudayakan kekesalan, saatnya kita berubah dengan memperbanyak tersenyum. Bagikan selera humor kita kepada orang lain sekarang juga !
Sobat. Berikut tips agar bisa kita meningkatkan selera humor :
1. Jadikan hidup anda lebih enjoy. Jangan terlalu tegang menyikapi setiap persoalan. Berpikirlah bahwa anda mampu mengendalikan hidup anda.
2. Miliki teman yang penuh selera humor. Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa hidup adalah sebuah keindahan. Anda bisa belajar membuat humor dari mereka.
3. Lihatlah sisi humor dari peristiwa yang anda alami. Pada dasarnya setiap peristiwa memiliki sisi humor, sekalipun peristiwa yang membuat stres.
4. Tersenyumlah kepada orang yang anda temui, maka itu akan membuat mereka merasakan magnet positif anda. Orang-orang yang selalu berusaha membuat orang lain ceria akan selalu tersenyum kepada orang lain sebagai ungkapan bahwa dirinya melayani dan memperhatikan. Anda akan menerima pantulan positif, jika anda memberikan hal positif. Begitu juga sebaliknya.
5. Rayakan hidup anda dengan bahagia. Tak penting sebesar apa kesulitan anda. Jika anda benar-benar ingin mengubahnya, mulailah merasa bahagia meski kenyataannya belum. Itu akan mendorong anda untuk berubah. Saya percaya akan hal itu. Selamat mencobanya ya !

Sobat. Selera humor kita bukan hanya pada level ucapan saja. Selera humor berhubungan dengan satu hal, yaitu saraf kita meresponnya. Jika kita mau hidup jauh lebih lama dan penuh dengan keceriaan, tingkatkan selera humor kita dan nikmatilah hidup kita yang penuh hidup sekarang juga.

MENJADI ORANG YANG BENAR


“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. ( QS. Al-Ahzab (33) : 23 )

Sobat. Mari disisa umur yang Allah berikan, kita berusaha sekuat tenaga memenuhi panggilan Allah dan seruan kebaikan di antara titik kelahiran dan titik kematian untuk terus istiqomah memberikan prestasi terbaik yang menjadikan Allah ridho, layak mencintai, dan menolong kita.

Proses menjadi orang yang Benar (Shodiq ) dalam kitab Tazkiyatun Nafs karya Sa’id Hawa :
1. Shidqun Niyah : Benar dalam niat. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa memedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

2. Shidqul ‘Azm : Benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam memotivasi dan mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memantapkan jiwa.

3. Shidqul Iltizam : Benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqomahkan dzikir, pikiran, dan Ikhtiar.

4. Shidqul ‘Amal : Benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Illahi. Benar dalam cara dan metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Sobat. Kita yang sudah menikah perlu merenung. Jika pun dulu ada niat yang bertitik hitam, ada prasangka terhadap kebesaran Allah, ada ketidakjujuran pada-Nya dan pada manusia, masih ada waktu untuk beristighfar, bertobat, dan memperbarui niat. Perbaiki dengan mengubah apa-apa yang ada dalam jiwa kita, insya Allah akan memahatkan makna dan mengalirkan darah baru bagi keberkahan rumah tangga kita.

Sobat. Bagi yang belum nikah, ayo jadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus-menerus. Saya tegaskan bahwa sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barokah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang bro? Apakah anda masih perlu jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya bahkan Allah akan menggaransinya :
“ Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Kedua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari maksiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.”
( HR.Tirmidzi Nasa’i dan Ibnu Majah )

Sobat. Menikah itu membuka pintu rezeki. Jadi logikanya rezeki kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-kian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan mana pun, tetapi bisa terhalang oleh beberapa hal misalnya malas, gengsi, dan maksiat. Kata Umar bin Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak maksiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan Insya Allah jantan, cuma banyak maksiat. Ini saja sudah menghalangi rezeki, belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.

Sobat. Ayo kita perbanyak Istighfar dan segeralah menikah bagi yang belum, Insya Allah barokah. Sekali lagi saya tegaskan sobat, gejala awal dari barokahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syariat, dan memudahkan diri.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

APA MASALAH BESAR DALAM KELUARGA?

APA MASALAH BESAR DALAM KELUARGA?

By. Satria Hadi Lubis

Keluarga bahagia adalah keluarga yang sibuknya menyelesaikan masalah besar, bukan masalah kecil. Masalah besar dalam rumah tangga muslim adalah tegak atau tidaknya Tauhid di dalam rumah tangga. Tegak atau tidaknya rukun Islam dan dakwah di dalam rumah tangga tsb. Sehingga sebagian besar sumber daya anggota keluarga dicurahkan untuk hal tsb, bukan yang lainnya. Itulah keluarga  Baginda Nabi Besar Muhammad saw. Walau rumahnya kecil dan sederhana, dengan bangga beliau berkata, "baiti jannatii" (rumahku surgaku) karena di rumahnya tegak Tauhid.

Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra pernah marah kepada sahabatnya yg minta cerai hanya gara-gara tidak lagi mencintai pasangannya. Karena bagi Umar itu masalah kecil. Yang besar itu masalah TAUHID. Ketika Rasulullah saw pulang dan di rumahnya tidak ada makanan, beliau dgn mudah memaafkan istrinya. Karena bagi Rasulullah yang besar itu masalah TAUHID. Ketika Rasulullah saw pulang malam dan tidak dibukakan pintu setelah memberi salam tiga kali dengan ringan beliau tidur di halaman rumahnya. Rasulullah saw tidak marah karena bagi beliau itu masalah kecil. Yang besar bagi beliau dalam rumah tangga itu masalah TAUHID. Ketika nabi Yaqub as sakaratul maut, yang dikuatirkan untuk anak-anaknya bukan masalah materi, tapi masalah tauhid. “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Qs. 2 : 133). Karena bagi Nabi Yaqub as yang besar itu masalah TAUHID, bukan yg lainnya. 

Ciri lainnya dari keluarga yang sibuk dengan masalah kecil adalah mereka lebih sibuk mencari uang atau aktualisasi keduniaan lainnya daripada aktivitas dakwah dan ibadah. Sedih dan bahagianya keluarga bukan karena tegak atau tidaknya Tauhid, tapi karena kenikmatan dunia. Pikiran, waktu, tenaga, dan perasaan anggota keluarga habis tercurah untuk berbagai pernik-pernik dunia. Momen-momen bahagia menurut keluarga tersebut adalah momen rekreasi atau berbangga dengan materi serta status sosial. Bukan momen ibadah dan dakwah yang mereka lakukan.

Pada saat ini kita melihat tingkat perceraian meningkat dimana-mana. Setiap satu jam rata2 ada 40 perceraian terjadi di Indonesia. Ya...Indonesia termasuk negara yg tingkat perceraiannya tertinggi di dunia. Padahal Islam, yg dipeluk sebagian besar penduduk Indonesia,  mempermudah pernikahan dan mempersulit perceraian.  Ini malah yg terjadi sebaliknya. Di Indonesia, pernikahan semakin ribet dan perceraian semakin mudah dilakukan oleh pasangan suami isteri.

Yang memprihatinkan, sebagian besar perceraian saat ini disebabkan masalah-masalah kecil yang tak ada hubungannya dengan Tauhid.  Misalnya, bercerai karena masalah ekonomi/nafkah, karakter, cara komunikasi, kebutuhan biologis, dan lain-lain. Yang semestinya bisa diselesaikan dgn komunikasi yg baik antar suami isteri.

Padahal semestinya suami isteri jangan bercerai karena masalah kecil. Bercerailah karena masalah besar, yakni Tauhid tumbang di dalam keluarga tsb. Yakni, ketika Rukun Islam tidak dijalankan dan diabaikan. Misalnya, pasangannya beda agama, tidak sholat, atau tidak puasa wajib. Rumah tangga tanpa Tauhid sebaiknya dibubarkan saja karena sudah tdk bisa membawa penghuninya ke surga bersama-sama. Bukankah menikah itu untuk dibawa ke dunia dan akhirat? Bukan semata-mata karena cinta buta?

Suami isteri yg bercerai karena masalah-masalah kecil selain Tauhid menunjukkan ketidakdewasaan emosi. Juga menunjukkan kesalahan prioritas dalam meraih kebahagiaan. Mestinya tegakkan Tauhid dulu dalam rumah tangga maka nanti masalah kecil yg lainnya akan selesai. Bukan sebaliknya, sibuk dgn hal-hal kecil selain Tauhid sehingga membuang energi dan waktu. Sedang bahagia menjadi semakin jauh. Pantas jika keluarga-keluarga muslim demikian diam-diam mengakui bahwa keluarganya adalah baiti naarii (keluargaku nerakaku), bukan baiti jannati. 

Lalu gimana kalau pasangannya berkali-kali selingkuh dan melakukan KDRT? Ini termasuk masalah Tauhid juga. Masalah dosa besar, sehingga boleh bercerai. Namun jika alasan2 lainnya maka termasuk masalah kecil yg kurang layak suami isteri untuk bercerai. Walau bukan berarti haram hukumnya.

Oleh sebab itu, mari kita menjadi suami dan isteri yang tahu skala prioritas. Tidak meributkan masalah kecil dalam rumah tangga. Bersedia bersabar dan berkorban perasaan atas kekurangan pasangan. Toleransi terhadap kesalahan yang tidak prinsip. Sebab no body perfect. Jika mindset ini yg kita pegang, selain membuat rumah tangga kita langgeng karena  tidak meributkan masalah-masalah kecil, juga mengurangi beban mental kita. Tidak sedikit-sedikit stress atau sakit hati akibat melihat kekurangan pasangan. 

Sebab berumah tangga adalah kesabaran (yang berlipat ganda). Sebab kebahagiaan hanya didapat oleh orang-orang yang mampu bersabar.